Lidah dan Hati

Bapak. Beliau orang pertama yang memenuhi ingatanku. Sepanjang jalan kurenung-renungkan wejangan yang beliau titipkan lewat cerita-cerita penggugah. Tiba-tiba aku teringat nasihat soal lidah dan hati.

Waktu itu, hujan memerangkap kami di teras langgar.

Bapak bersandar di tiang kayu, aku di dinding di dekat pintu. Hanya kami. Kemudian, Bapak memecah kebisuan dengan kisah seorang pekerja, dahulu kala, di Habasyah. Aku bertanya di mana letak negeri Habasyah itu, tapi Bapak menggeleng. “Hanya itu keterangan yang ada dalam kitab yang ditulis Ibnu Katsir,” jawab Bapak. Aku berhenti bertanya dan berniat menanyakan letak negeri Habasyah itu kepada Arif yang paham Ilmu Bumi.

Bapak meneruskan kisahnya. Syahdan, Lukman –sang pekerja– dipanggil oleh majikannya. Dia diminta menyembelih seekor domba. Lukman mengerjakan perintah itu dengan cekatan. Ketika dia melaporkan bahwa dia sudah menyembelih domba, sang majikan menyuruhnya agar mengambilkan dua bagian daging yang paling enak. Lagi-lagi Lukman bergerak dengan gesit. Dia ambil lidah dan hati, dua bagian daging paling enak yang dipinta oleh sang majikan.

Ketika sang majikan menerima lidah dan hati dari Lukman, dia bertanya, “Ada bagian daging yang lebih enak daripada lidah dan hati ini?”

Lukman menjawab dengan santun, “Tidak ada, Tuan.”

Keesokan harinya, sang majikan memerintahkan hal yang sama pada Lukman. Kali ini, dia suruh Lukman untuk membuang dua bagian daging yang paling tidak enak. Lukman segera membuang lidah dan hati.

Sang majikan tertegun melihatnya. Karena tak tahan, dia bertanya, “Lukman, kemarin aku suruh kamu mengambil dua bagian daging yang paling enak, kau bawakan untukku lidah dan hati. Hari ini aku suruh kamu membuang dua bagian daging yang paling tidak enak, kau buang lidah dan hati. Apa alasanmu?”

Dengan santun, Lukman menjawab, “Tuan, tak ada daging yang paling enak dan paling baik selain lidah dan hati, tentu bila keduanya baik. Tapi, kalau keduanya tidak baik, tak ada daging yang paling tidak enak selain lidah dan hati.”

Bapak menutup kisahnya dengan sebaris kalimat sakti. Kalimat bukan semata-mata petuah. Kalimat itu bekal berharga sepanjang hidup. Aku menyesal karena sempat mengabaikan kalimat sakti itu. Namun, saat Syuhainie mendampratku habis-habisan, aku amalkan kalimat sakti itu dengan baik. Aku menahan lidah agar tak banyak membantah, dan menjaga agar hati tidak menyimpan amarah dan benci. Hasilnya, luar biasa. Aku menyerap ilmu seperti malam menyerap senyap.

Waktu itu, Bapak berkata, “Lidah dan hati mesti kau jaga lebih hati-hati.”

Image

Yak itu tadi sepenggal kisah, lagi-lagi copas dari Novel Surat Dahlan.

Yo yo yo diambil hikmahnya yaa…

#oek

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s