Unas??? It’s Not The End Of The World, Guys!!!!

Image

Horeee, Ujian Nasional SMA/SMK/MA/MAK Sederajat udah selesai!!!

Ada yang sudah plong, ada juga yang malah tambah tegang karena nunggu pengumuman.. Meskipun juga banyak yang malah belum mulai ujian sama sekali dengan berbagai alasan. Soalnya belum sampai lah, ketuker lah, harus fotokopi dulu lah, dan masih banyak lagi pastinya masalah yang harus dihadapi demi mengerjakan beberapa butir soal.. Untunglah sekolah saya bukan salah satunya. Kami bersyukur tidak ada kendala yang berarti. Soal terkirim tepat waktu, masuk tepat waktu, jumlahnya tepat, tidak kurang, soalnya jelas, intinya kami sangat berterimakasih kepada Tuhan YME. Karena jika Dia berkehendak, maka terjadilah apa yang Dia kehendaki. Lhoh!

Walaupun lagi nih, kami tetap khawatir dengan hasilnya berkaitan dengan LJUN, yang konon katanya merupakan salah satu kunci keberhasilan ujian nasional. Gimana tidak khawatir, wong kertasnya itu tipis, kualitasnya gak bagus bagus amat, banyak barcode-nya, ribet lagi penggunaannya. Segala harus dirobek pakai tangan lah, tidak boleh pakai alat lah, kalau LJUN rusak dan ingin ganti, harus ganti sama soal soalnya juga, ribet banget kan. Jadi sebenarnya kebanyakan siswa itu sudah tidak takut lagi dengan soalnya, tapi takut dengan LJUN-nya.!! (termasuk yang bikin artikel ini :P)

Nah, saya juga ingin menanggapi artikel Arita Gloria Zulkifli tentang keluhan LJUN-nya itu. Saya 50 % setuju dan sisanya kurang setuju.. Kenapa setuju? Ya memang saya rasa hampir semua siswa yang mengikuti UN ini akan mengeluhkan si LJUN ini. Dengan kualitas yang bla bla bla itu, kita harus memperlakukan LJUN bak uang seratus ribuan baru yang masih gresss. Tidak boleh dilipat, disobek, diapa-apain lah. Lho, lha ngerjainnya diapain donk? Ya cukup kerjakan sewajarnya. Cek kelengkapan soal, sobek LJUN-nya, lalu ‘singkirkan’ saja dulu. Kita kerjakan soal di lembar soal yang sekarang ^boleh dicoret-coret^ itu. Baru dipindah deh ke si LJUN. Dengan begitu mungkin dapat sedikit mengurangi tingkat kerusakan. But, saya tidak terlalu ambil pusing. Caranya mungkin sama dengan yang saya tuliskan tadi. Cek soal, sobek LJUN, kerjakan soal langsung hitamkan si LJUN. Kalaupun setelah dicek ada yang salah, ya tinggal dihapus saja. Gitu aja kok repot! -__-” Buktinya tidak terjadi apa-apa dengan LJUN saya. Mungkin masih ada sedikit bekas pada jawaban yang sebelumnya. Tapi tidak sampai hilang seluruhnya si bulatan abjadnya seperti yang disampaikan sebagian besar siswa, bahkan ada yang sampai bolong!!! Dikira nyoblos calon bupati apa ya????? #oek

Terus apa kabar dengan sebagian besar sekolah yang terpaksa menggunakan soal dan LJUN fotokopi??? Atau yang harus diundur hari pelaksanaan ujiannya??? Seharusnya kita yang lebih beruntung dengan kondisi ujian tepat waktu, tempat ujian yang layak, tidak kekurangan soal, bersyukur. Lihatlah kawan-kawan kita di sebagian besar provinsi di Indonesia…!!! Miris kan? Kenapa kita harus mengeluh dengan sesuatu yang tidak didapat kawan kita tersebut? Kenapa kita mengeluhkan sesuatu yang masih bisa kita ‘akali’??

Ada yang mengeluhkan soal bolong karena pensil? Ada yang parno paranoid harus pakai pensil merk tertentu? Nah saya saja pakai pensil yang beginian.. 😛

Image

Hahaha, gitu aja kok repot.. Karena ujungnya yang sudah runcing dari sononya, dan mudah dihapus juga. Nggak perlu sedikit-sedikit raut, sebentar-sebentar raut, mana rautannya dapet minjem lagi,, jangan-jangan pensilnya juga boleh nemu, #ngenes cak. Kalaupun saya gak lulus cuma gara-gara pensil, kok yo kebangeten men

Memang UN tahun ini dianggap sebagai yang paling gagal sepanjang sejarah ujian nasional Indonesia. Paling mahal juga katanya. Terus sekarang mau apa? Hapuskan UN? Lu kire ni negara lu sendiri? Buanyak hal yang harus dipertimbangkan untuk melakukan hal tersebut. Lu pikir pemerintah nggak mumet mikirin anak sekolah se-Indonesia? Jangan berpikir pendek lah… Kita kan sudah termasuk anak berpendidikan..

Bayangkan hajatan ujian nasional yang sudah turun-temurun sejak 1965 dihapus begitu saja?? Itu kan juga termasuk sejarah. Alasannya sih “masa sekolah bertahun-tahun cuma ditentukan dengan ujian beberapa jam?” Siapa yang bilang sih kalau UN itu akhir segalanya? Please deh.. It’s not the end of the world, guys!!!

Berikut sedikit prakata dari Om Deddy Corbuzier :

1. UN adalah bagian dari semua siswa.. ini bukan masalah anda sendiri namun masalah semua orang yg sedang menghadapi nya.. so you’re not alone at all..
2. anda bisa belajar semaksimal anda.. jelas bukan kalau itu yang harus dilakukan anda? namun hasil tidak hanya terpengaruh atas berapa banyak anda belajar…konsentrasi dan kesehatan anda juga pengaruh.
3. anggap saja nilai anda jelek… SO WHAT?! its not the end of the world.. masa depan anda bukan tergantung ujian kok!!
4. masa depan kita bukan dinilai seperti ujian….
5. the more you stress the more you fail.

See???? Jadi take it easy saja lah… Kalian menyikapi ujian seakan kalian akan mati kalau gagal. Nggak kok..

Balik lagi soal penghapusan UN.. Lagi-lagi saya gunakan kata ‘bayangkan’. Ya bayangkan saja UN dihapus, apa yang akan menjadi standar kelulusan kalian? Nilai Rapor? Haha, bisa dibikin dimanipulasi kan? Lalu apa? Ada ide lain? Dan bayangkan juga UN dihapus, apa yang menjadi pembeda antarsekolah? Nggak usah munafik, setiap sekolah ingin menjadi yang terbaik. Dan kemungkinan besar setiap sekolah akan berlomba-lomba mendapatkan predikat sekolah dengan Nilai UN Tertinggi, baik sekolah maupun siswanya.. Lihatlah betapa bangganya mereka mendapat predikat tersebut!! Predikat yang bisa dipamerkan pada publik bahwa mereka berhasil mendidik siswa dengan baik, berhasil dalam belajar. Setelah itu apa? Akan banyak sekolah lanjutan atau perguruan tinggi yang akan rebutan mendapatkan siswa berprestasi tersebut. Diberi beasiswa atau sekolah gratis misalnya. Siapa yang gak kepengen… Nyam nyam nyam.. Nah sekarang kan kelulusan tidak hanya berasal dari UN, tapi juga 40% Ujian Sekolah. Kenapa kalian gak mikir buat HAPUSKAN UJIAN SEKOLAH? Kalian cenderung ingin menjatuhkan petinggi-petinggi negara. Itu karena kita hanya melihat sisi negatif mereka saja. Apakah mereka semua korupsi? Nggak kan? Masih banyak kok pemerintah yang jujur..

Yuk sekarang kita bahas tentang materi ujian nasional.!!! Menurut kalian apakah tingkat kesulitan ujian nasional di kota besar sama dengan di kota terpencil???? Jawabannya “YA”!!! Ini yang saya kurang setuju juga. Bayangkan soal ujian di Jakarta yang kota megapolitan sama dengan soal ujian di sekolah terpencil di Papua atau daerah terpencil lainnya? Itu berarti Indonesia tidak akan pernah mendapatkan siswa lulus ujian 100%.

Anak TK di kota besar ke mana-mana menyimpan gadget di saku mereka. Buat apa? Ya bisa buat apa saja, buat browsing lah, sms lah, lain-lain deh. Pokoknya dunia serasa ada di genggaman. Kita tilik ke anak SD di kota terpencil, bahkan anak kelas 5 SD belum seluruhnya bisa membaca, boro-boro bisa baca, mereka harus membantu orangtua mereka ngurus rumah. Kalaupun ada kesempatan sekolah, tidak bisa setiap hari. Kalaupun ada kesempatan sekolah, lokasinya puluhan kilometer. hmmm saya jadi merinding..

Nah kalau standar kelulusan disamakan, kasihan kan saudara-saudara kita tersebut.. Dan menurut saya sebaiknya setiap daerah punya standarnya masing-masing. Jadi soal tidak lagi dari pusat tapi bersifat kedaerahan. hehehe

Lhoh, kalau begitu namanya Ujian Daerah donk??? Haha ya nggak gitu juga. Cukup soalnya saja yang kedaerahan. Pelaksanaannya tetap nasional. Dengan begitu kan pemerintah bisa sedikit terbantu. Bagaimanapun segala hal yang dilakukan bersama-sama akan lebih ringan daripada dikerjakan sendirian.. Betul tidak???

Yap segitu saja curhatan opini dari saya.. Apa yang saya ungkapkan bukanlah provokasi, saya bersikap netral di sini. Salam dua jari bagi kita semua..

#oek

@TikaWhy17

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s